10 Juta NPWP akan dikaji ulang

DENPASAR: Dirjen Pajak Darmin Nasution menegaskan pengukuh-an NPWP secara jabatan dalam program 10 juta NPWP akan dikaji ulang untuk memastikan bahwa data wajib pajak tersebut memiliki nilai akurasi yang tinggi.

DENPASAR: Dirjen Pajak Darmin Nasution menegaskan pengukuh-an NPWP secara jabatan dalam program 10 juta NPWP akan dikaji ulang untuk memastikan bahwa data wajib pajak tersebut memiliki nilai akurasi yang tinggi.

“Saya akan memverifikasi lagi data tersebut sehingga tidak ada lagi komplain dari masyarakat,” katanya kepada Bisnis selepas meresmikan kantor pajak modern di Denpasar kemarin.

Program 10 Juta NPWP diluncurkan Ditjen Pajak terkait dengan 1 tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Jumlah tersebut merupakan lonjakan yang luar biasa, karena sebelumnya hanya tercatat sekitar 3,5 juta NPWP. Dari jumlah tersebut 1,5 juta adalah NPWP badan dan sisanya NPWP orang pribadi.

Darmin mengingatkan penambahan 6,5 juta NPWP orang pribadi tidak berarti menambah penerimaan pajak secara proposional.

“Jumlah tersebut adalah NPWP yang relatif kecil dibandingkan dengan NPWP orang pribadi yang ada. Jadi bukan berarti penerimaan naik tiga kali lipat,” katanya.

Sementara itu, Direktur Informasi Perpajakan Ken Dwijugeasteadi menjelaskan data WP baru selalu diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Misalnya,kata dia, ada orang yang sudah meninggal tapi masih mendapat pengukuhan NPWP. “Faktanya, di Indonesia memang tidak ada data mengenai kematian.”

Namun demikian, Ken menjamin jumlahnya tidak akan berkurang. Sebab jika ada lima NPWP yang dihapus, maka akan ada tujuh NPWP baru yang dikukuhkan. “Masih banyak kota-kota lain yang belum kita sisir. Potensinya masih banyak,” katanya.

Orang pribadi

Sekditjen Pajak Suharno menyatakan tidak ada yang salah dengan program 10 Juta NPWP. Di negara maju manapun, kata dia, penerimaan pajak bertumpu pada orang pribadi. Dia menunjuk kasus di Amerika Serikat di mana Wajib Pajak Badan hanya menyumbang 8,8% penerimaan pajak penghasilan nasional, sisanya merupakan sumbangan WP orang pribadi.

“Di Indonesia komposisinya jutru terbalik. Program 10 Juta NPWP ke depan dimaksudkan untuk mengoreksi anomali tersebut.”

Suharno menjelaskan dengan karakteristik WP yang ada sekarang tidak akan mampu mendukung target penerimaan pajak dalam jangka panjang.

Penerimaan pajak Indonesia selama ini didominasi oleh Pajak Pertambahan Nilai dan PPh badan. PPN meski potensinya besar, kata dia, namun unsur keadilannya sangat rendah. “Sebab baik mereka yang kaya maupun yang miskin harus menanggung beban pajak yang sama.”

Sementara PPh badan akan membuat dunia usaha mengalami tekanan yang tinggi dan tidak sejalan dengan tren internasional yang cenderung turun tarif. “Padahal Presiden pagi-pagi sudah menargetkan rasio pajak 19% pada akhir 2009.”

Jika PDB kita pada tahun itu mencapai Rp3.000 triliun-Rp4.000 triliun, berarti penerimaan saat itu akan mencapai Rp600 triliun-Rp800 triliun.

“Jika masih mengandalkan WP badan, penerimaan sebesar itu jelas sangat be-rat,” katanya.

Dia mengakui NPWP orang pribadi butuh ketekunan dan administrasi yang besar karena nilai pajak yang mereka bayar per WP relatif kecil dibandingkan WP badan. Selain butuh ketekunan, WP orang pribadi juga perlu waktu untuk melihat hasilnya.

“Tapi kita tak ada alternatif lain. Jika masih bertumpu pada badan, nanti tudingan Ditjen Pajak hanya bisa berburu di kebun binatang tak akan hilang.”

Terkait dengan verifikasi NPWP, Suharno mengusulkan agar Kantor Pelayanan PBB bisa dilibatkan. Sebab data wajib pajak sangat terkait dengan aset properti yang mereka miliki. Sebagian besar penduduk Indonesia masih menjadikan properti sebagai aset utama. (Parwito/Bisnis Indonesia 16 Mei 2006)

Tentang parwitoparwito

it is about my opinion.... it all about my world
Pos ini dipublikasikan di News dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s