Tidur nyenyak sesudah bayar pajak

Apa arti sebuah slogan? Jawaban atas pertanyaan ini bisa bermacam-macam, tergantung kepada siapa pertanyaan tersebut diajukan. Jika pertanyaan ini diajukan kepada Dek Pendi (sebutan untuk Effendi Gozali, pakar komunikasi UI, pada sebuah acara televisi) dan Gus Dur, jawabannya bisa jadi akan sangat bertolak belakang.

Jawaban Dik Pendi mungkin akan panjang lebar untuk menunjukkan bahwa dirinya ahli komunikasi. Sebaliknya Gus Dur, saya tahu pasti, jawabannya pendek saja: Gitu saja kok repot…

Slogan sendiri, menurut wikipedia, adalah motto atau frasa yang dipakai pada konteks politik, komersial, agama, dan lainnya, sebagai ekspresi sebuah ide atau tujuan. Bentuk slogan bervariasi, dari yang tertulis dan terlihat, sampai yang diucap dan yang vulgar.

Kata slogan sendiri diambil dari istilah dalam bahasa Gaelik, sluagh-ghairm, yang berarti “teriakan bertempur”.

Slogan Ditjen Pajak

Sebagai organisasi besar dengan tanggung jawab yang besar pula, Ditjen Pajak sangat peduli dengan slogan-slogan yang mendorong kesadaran warga negara terhadap pajak. “Orang bijak taat pajak”, “Bersama Anda Membangun Bangsa”, “Membayar Pajak adalah Patriot Bangsa”, “Pembayar Pajak adalah Pahlawan Pembangunan”, “Sadar dan Peduli Pajak”, “Pajak Kini Terbuka, Bagaimana Dengan Anda?”, hingga “Nikmatnya Tidur Nyenyak Sesudah Bayar Pajak-Bayar Pajak Penghasilan Anda Tepat Pada Waktunya”.

Slogan-slogan tersebut, yang dipopulerkan dengan miliaran rupiah, rasanya tidak lebih dari sekadar pelengkap. Masyarakat bahkan sering menertawakan slogan-slogan tersebut karena yang terjadi di lapangan seperti bumi dan langit.

Slogan “Orang Bijak Taat Pajak” misalnya sering diplesetkan menjadi “Orang Bijak Taat Pajak, Orang Pajak Mati Dilaknat”. Tapi tidak semua orang pajak marah dengan gurauan tersebut, beberapa di antaranya bahkan menimpali dengan kata-kata “Orang Pajak Mati Nikmat”

M. Budi Widajanto yang tinggal di Surabaya memberi kritikan sangat santun terhadap slogan pajak sebagaimana dimuat di media online suarasurabaya.net, pada 9 Mei 2007. Berikut kutipannya:

Pemerintah memang aneh. Katanya masyarakat yang baik harus bayar pajak tepat waktu, bahkan ada slogan atau jargon yang akrab kita baca di jalan-jalan yaitu Orang Bijak Taat Pajak.

Tapi faktanya, kalau mau bayar pajak, khususnya lewat SSP (surat setoran pajak) PPN atau PPh di bank bank persepsi maupun kantor pos, waktunya sangat terbatas. Di kantor pos jam 08.00-11.00, di bank persepsi lebih galak lagi jam 08.00-10.00. Bahkan ada yang 08.00-09.30. Gimana ini, orang mau bayar pajak kok waktunya dibatasi?

Oleh karena itu perlu ada slogan baru: Pemerintah Bijak Mudahkan Wajib Pajak Bayar Pajak (betul nggak pak Direktorat Jenderal Pajak ??? )

Tidur nyenyak

Dari bermacam-macam slogan yang dipromosikan Ditjen Pajak, rasanya slogan terakhir “Nikmatnya Tidur Nyenyak Sesudah Bayar Pajak” menjadi paling aneh dan ngawur. Slogan tersebut, menurut saya, sama sekali tidak mengena bahkan cenderung mendistorsi sistem perpajakan atau kepatuhan pajak yang sekian lama dibangun.

Pertama, UU Pajak lebih mendahulukan pembayaran pajak yang benar, lengkap dan jelas (Pasal 4 UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan/KUP) dibandingkan dengan pembayaran pajak tepat waktu (Pasal 3 U KUP).

Buktinya, Dirjen Pajak masih bisa memberikan toleransi terhadap wajib pajak yang terlambat. Bahkan bila keterlambatan tersebut masih berlanjut setelah diberi perpanjangan waktu, Wajib Pajak hanya dikenai sanksi Rp50.000 untuk SPT masa dan Rp100.000 untuk SPT tahunan.

Sementara itu terhadap kebenaran, kelengkapan dan kejelasan SPT, wajib pajak diancam hukuman sanksi pidana dan denda. Bahkan sanksi tersebut tetap berlaku meski WP tidak sengaja alias alpa. Bila sengaja, sanksinya jauh lebih keras.

Dengan demikian, slogan dalam iklan tersebut sangat menyesatkan. Sebab wajib pajak yang telah membayar PPh tepat waktu-hanya memenuhi kepatuhan formal, bukan kepatuhan material-bisa diperiksa, disidik, bahkan disandera dan dilelang hartanya.

Pertanyaannya, apakah slogan dalam iklan tersebut, yang dikeluarkan secara resmi oleh Ditjen Pajak, bisa dijadikan dasar bagi Wajib Pajak untuk menolak setiap pemeriksaan, penyidikan dan tindakan hukum lainnya, bila WP nyata-nyata telah membayar tepat waktu?

Kedua, Ditjen Pajak melakukan diskriminasi atas jenis-jenis pajak. Mengapa WP didorong membayar tepat waktu hanya untuk pajak penghasilan? Apakah dengan demikian, WP boleh menunda-nunda kewajibannya untuk menyetor atau membayar pajak pertambahan nilai (PPN), pajak bumi dan bangunan, bea perolehan atas hak tanah dan bangunan (BPHTB), pajak lainnya (bea materai)?

Ketiga, Ditjen Pajak mendorong bangsa ini menjadi bangsa pemalas. Bayangkan, di saat pengusaha dari berbagai negara didorong untuk kerja keras, efisien, efektif, dan selalu berjaga untuk mencermati gerak-gerik pesaing, pengusaha di Indonesia oleh Ditjen Pajak justru disuruh tidur nyenyak. Jika wajib pajak dalam iklan tersebut berbaju tidur, apalagi tengah tidur-tiduran di tempat tidur bersama istri tercinta, maka imbauan untuk tidur nyenyak masih bisa diterima. Tapi ini…. dalam busana resmi, dengan jas yang necis dan dasi elegan, dan duduk di kursi kerja, bisa-bisanya Ditjen Pajak menyuruh mereka tidur nyenyak.

Slogan dalam iklan tersebut-yang memang diperankan oleh orang pajak sendiri-jangan-jangan mencerminkan budaya dan perilaku pegawai pajak: Tidur nyenyak pada saat kerja?! Pantas saja, realisasi penerimaan pajak tahun lalu gagal dan tahun ini pagi-pagi sudah minta diturunkan targetnya. Zzzz…zzzz…. Zzzz…. (parwito/Bisnis Indonesia 28 Juli 2007)

Tentang parwitoparwito

it is about my opinion.... it all about my world
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s